Industri RI Masuk Zona Merah, Begini Kinerjanya Selama 6 Bulan di 2026

17 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC - Kondisi Industri di Indonesia condong lesu, ditandai dengan info Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur nan melambat hingga ke area kontraksi pada penghujung semester I-2026, alias tepatnya Juni 2026.

Berdasarkan info dari S&P, PMI manufaktur Indonesia periode Juni 2026 turun menjadi 46,9. PMI menggunakan nomor 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya bumi upaya sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan komponen produksi barang. Selain itu, juga ada indikasi penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu nan paling besar dalam setahun.

"Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas peralatan manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun," tulis S&P, dikutip kembali Senin (6/7/2026).

S&P menilai tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak bulan April 2025.

Alasan PMI Manufaktur Turun

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan argumen kondisi manufaktur Indo Indonesia nan jatuh ke area kontraksi.

"Itu mengenai dengan supply chain. Jadi supply chain sangat terganggu, dan kita memang Indonesia dapatnya lagging. Jadi telat untuk terganggunya," ucapnya kepada pewarta di instansi Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Masalah rantai pasok dunia ini, Airlangga katakan menjadi masalah nan dibahas seluruh dunia. "Apakah itu OECD, apakah ASEAN, oleh lantaran itu, itu nan kudu menjadi perhatian," lanjutnya

Meskipun demikian, Airlangga mengatakan kondisi manufaktur Indonesia sebenarnya tetap baik jika memandang proyeksi dalam 12 bulan ke depan. "Tapi jika kita lihat outlook 12 bulan ke depan sih relatif mereka lebih optimis," ungkap Airlangga.

Dibalik Lesunya Kinerja Industri

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian mengatakan turunnya PMI manufaktur RI pada Juni ke area kontraksi menandakan sektor industri memerlukan kepastian arah kebijakan dan sinyal optimisme dari pemerintah.

"Ketika bumi upaya menghadapi tekanan biaya nan meningkat, pemerintah perlu mengurangi beragam corak intervensi nan menambah ketidakpastian. Saat ini nan dibutuhkan adalah mengembalikan kepercayaan," kata Fakhrul dalam keterangannya, dikutip Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, bumi upaya bakal kembali berinvestasi andaikan mereka memandang pemerintah mempunyai arah kebijakan nan jelas, konsisten, serta memberikan ruang bagi sektor swasta untuk tumbuh.

Fakhrul juga menilai pemerintah perlu segera menyiapkan stimulus nan secara langsung menurunkan biaya produksi industri. Ketika tekanan berasal dari sisi biaya, ujar dia, maka solusi terbaik adalah membantu bumi upaya mengurangi beban biaya produksinya sehingga mereka dapat mempertahankan kapabilitas produksi maupun tenaga kerjanya.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan turunnya PMI manufaktur menandakan bahwa pelaku upaya makin berhati-hati lantaran permintaan melemah, biaya produksi naik, rupiah nan belum stabil, dan menurunnya kepastian pasar.

"PMI manufaktur turun bukan semata-mata lantaran bumi upaya tidak percaya kepada pemerintah. Namun, info ini jelas menunjukkan bahwa pelaku upaya makin berhati-hati lantaran permintaan melemah, biaya produksi naik, rupiah belum stabil, dan kepastian pasar menurun," kata Josua.

Apalagi, menurutnya, ketidakpastian kebijakan dapat memperburuk keadaan, seperti halnya izin nan selalu berubah-ubah.

"Ketidakpastian kebijakan bisa memperburuk keadaan jika pelaku upaya memandang patokan sering berubah, biaya logistik tinggi, dan support industri tidak tepat sasaran," jelas Josua.

Pemerintah diminta untuk memberi kepastian kebijakan, menjaga pasokan bahan baku industri, menurunkan biaya logistik dan energi, serta mempercepat support untuk sektor padat karya dan berorientasi ekspor.

Masih Ada Sinyal Industri RI Bertumbuh

Meskipun parameter PMI Manufaktur loyo, sejumlah parameter keahlian industri lainnya justru tetap mengalami peningkatan. Total penjualan listrik misalnya tetap bisa tumbuh terutama untuk sektor upaya dan industri pada periode Januari-April 2026. Pertumbuhan penjualan listri industri tetap bisa tumbuh 17,1% dan upaya 11,9%.

Laju pertumbuhan pada separuh tahun ini melanjutkan keahlian penjualan listrik PT PLN (Persero) sepanjang tahun lalu. PLN mencatat penjualan listrik mencapai 317,69 terawatt hour (TWh), tumbuh 3,75% secara tahunan (year on year/YoY) pada 2025, dibandingkan 2024 nan mencapai 306,22 TWh.

Konsumsi listrik sektor industri mencapai 93,35 TWh alias tumbuh 2,5% YoY setara 2,31 TWh. Pertumbuhan tersebut didorong oleh industri makanan dan minuman, besi, baja dan logam, serta peralatan galian bukan logam.

Selain itu, konsumsi BBM pun tercatat tetap bisa mengalami pertumbuhan sepanjang kuartal I-2026. BBM untuk industri pertumbuhannya mencapai 17%, sedangkan BBM ritel juga tetap bisa tumbuh 11,9%.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya