Jelang Muktamar ke-35 NU, Nama KH Zulfa Mustofa Masuk Bursa Calon Ketum PBNU

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Nama Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa masuk dalam bursa pencalonan Ketum PBNU. Foto/SindoNews

JAKARTA - Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) , nama Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa masuk dalam bursa pencalonan. Kiai Zulfa dinilai sebagai sosok nan tepat menduduki kedudukan Ketua Umum PBNU.

"Kalau itu permintaan dari pengurus bagian dan wilayah, saya tidak bisa menolak," kata KH Zulfa dalam konvensi pers seusai aktivitas peluncuran dan bedah kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam 10 Juli 2026.

Kiai Zulfa menegaskan, proses pemilihan Ketua Umum PBNU kudu ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga marwah, persatuan, dan masa depan jam’iyah. Kepemimpinan NU, bukan hanya berangkaian dengan kedudukan struktural, tetapi juga mengandung tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi keilmuan, merawat umat, dan menghadirkan NU sebagai kompas moral bangsa.

Baca juga: Ponpes Tambakberas Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Gus Ma’shum Faqih: Panggilan Para Muassis NU

Ketua Lembaga Dakwah PBNU Kiai Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, semakin banyak aspirasi dari pengurus wilayah dan pengurus bagian NU nan meminta KH Zulfa untuk maju dalam kandidasi di muktamar. "Beliau jadi ikon perubahan dalam NU," katanya.

Pernyataan tokoh NU ini disampaikan setelah Kiai Zulfa meluncurkan Ithafu Ummati Al Muqtafa, sebuah karya nan menghimpun empat kitab berkata Arab mengenai metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.

Lihat video: Satu Abad NU, PBNU Gelar Puncak Harlah di Istora Senayan

Peluncuran kitab tersebut menjadi penegasan tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama tidak boleh berakhir pada pengajian, ceramah, dan transmisi pengetahuan secara lisan. Ulama dan generasi muda pesantren juga perlu kembali menghidupkan tradisi menulis dan menghasilkan karya nan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan sebuah karya nan saya beri nama Ithafu Ummati Al Muqtafa. Jika diterjemahkan secara bebas, ini adalah bingkisan bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Isinya empat kitab; tiga di bagian fikih dan ushul fikih, serta satu kitab mengenai riwayat hidup dan sejarah Syekh Nawawi al-Bantani,” ujarnya.

Empat kitab tersebut mempertemukan kekayaan khazanah fikih klasik dengan persoalan nan dihadapi masyarakat modern, mulai dari transaksi digital, kebijakan publik, dinamika lembaga fatwa, hingga penyebaran pandangan keagamaan secara instan melalui media sosial.

Kitab pertama, Dawabit Bahts al-Masail wa al-Ifta inda Nahdat al-Ulama, membahas prinsip dan metodologi Bahtsul Masail serta pemberian fatwa di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Selengkapnya