Kredit UMKM 'Selow', Ternyata Ini Sebabnya!

12 jam yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan penyaluran angsuran upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nyaris stagnan sepanjang awal tahun 2026. Pertumbuhannya belum mencapai 1% hingga Mei 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran angsuran upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada Mei 2026 tumbuh tipis 0,6% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.509,5 triliun.

Berdasarkan Analis Perkembangan Uang Beredar nan diterbitkan BI, pertumbuhan penyaluran angsuran UMKM dipengaruhi oleh keahlian angsuran UMKM dengan skala upaya menengah.

Secara rinci, angsuran UMKM pada skala mikro mengalami pertumbuhan sebesar 0,6% yoy menjadi Rp664,7 triliun. Realisasi pertumbuhan ini melambat dibanding bulan sebelumnya nan tumbuh sebesar 0,7%. Terdapat empat masalah nan menyebabkan UMKM tidak maksimal dalam menyerap angsuran dari perbankan.

"Tingginya inflasi bagi produsen berfaedah biaya bahan baku, energi, dan logistik nan naik signifikan sementara nilai jual susah dinaikkan lantaran daya beli konsumen nan melemah. Akibatnya margin upaya menipis dan semakin tidak layak dibiayai dari perspektif lembaga keuangan," tulis LPEM FEB UI dalam Edisi Trade and Industry "Dukungan Kredit Gencar, Mengapa Belum Tersalur Maksimal ke Pasar?" dikutip pada Senin (7/6/2026).

Kedua, hadirnya produk murah dari luar negeri dijual langsung ke konsumen Indonesia melalui platform e-commerce cross-border, tanpa melalui jaringan pengedaran lokal.

"UMKM domestik, terutama di sektor tekstil, produk rumah tangga, dan elektronik, menghadapi persaingan nilai nan tidak seimbang. Omzet turun, arus kas melemah, dan profil akibat angsuran memburuk."

Tekanan berikutnya nan membikin serapan angsuran ke UMKM tidak maksimal adalah lemahnya daya beli konsumen segmen bawah.

"Pertumbuhan PDB 5,11% pada 2025 tidak terdistribusi merata," kata LPEM FEB UI.

Konsumsi rumah tangga kelas bawah nan menjadi segmen utama pengguna UMKM (terutama nan usahanya berupa warung, pedagang pasar, dan jasa informal) tumbuh lebih lambat dari rata-rata nasional. Menurut LPEM FEB UI, penurunan daya beli ini langsung berakibat pada omzet UMKM, pada gilirannya ke arus kas, dan kemudian kepantasan angsuran UMKM.

Terakhir, adanya ketidakpastian dunia seperti perang tarif dan gangguan rantai pasok juga memengaruhi.

"Kebijakan tarif AS terhadap Indonesia maupun mitra jual beli utama Indonesia menciptakan ketidakpastian global," katanya.

UMKM nan menjadi pemasok bagi eksportir, alias nan berjuntai pada bahan baku impor, menghadapi volatilitas nilai dan permintaan nan tinggi.

"Ketidakpastian ini mengurangi insentif UMKM untuk berekspansi, dan tanpa rencana ekspansi berfaedah tidak ada kebutuhan angsuran nan bankable."

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya