Jakarta, CNBC Indonesia - Mobil terbang mulai diperkenalkan kepada publik Indonesia sebagai gambaran teknologi transportasi masa depan. Namun, kehadiran kendaraan tersebut belum diikuti dengan kesiapan regulasi, sehingga pemasarannya di Tanah Air tetap kudu menunggu kepastian patokan dari pemerintah.
Vice President Marketing XPeng Hari Arianto mengatakan mobil terbang X2 sebenarnya bukan lagi sebatas konsep. Produk tersebut telah dipasarkan di sejumlah negara, namun Indonesia tetap memerlukan proses nan lebih panjang sebelum kendaraan itu bisa dipasarkan.
"Jadi memang betul X2 sendiri sebenarnya di luar market Indonesia pun sudah dipasarkan. Bahkan peminatnya juga cukup banyak, terutama di Arab Emirat. Tetapi memang nggak mudah untuk di Indonesia lantaran ini bukan sekadar mobil, tapi sudah masuk ke ranah keselamatan sehingga kudu diajukan perizinan unik untuk bisa dijual di Indonesia," ujar Hari kepada CNBC Indonesia saat ditemui di sela GIIAS 2026.
XPeng sengaja membawa X2 ke arena GIIAS bukan untuk langsung dipasarkan, melainkan menunjukkan arah pengembangan teknologi perusahaan kepada masyarakat Indonesia. Kehadiran mobil terbang itu juga menjadi bagian dari konsep Physical AI nan diusung perusahaan dalam pameran otomotif tersebut.
Selain X2, perusahaan turut memamerkan replika chip Turing, robot humanoid, hingga sejumlah kendaraan listrik terbaru sebagai gambaran ekosistem teknologi nan tengah dikembangkan secara global. Menurut Hari, seluruh teknologi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan telah siap ketika pasar dan izin Indonesia mendukung.
X-Peng Mobil Terbang X2 di GIIAS 2026. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
"Barangnya ada. Makanya ini relevan dengan nan kita bawa di GIIAS. Turing Chip, robot, mobil terbang, model-model nan belum dipasarkan di Indonesia, ini untuk menunjukkan ke market bahwa kami siap, tinggal menunggu waktunya," katanya.
Hari menjelaskan X2 dirancang lebih sebagai kendaraan mobilitas jarak pendek dan kebutuhan unik dibandingkan kendaraan harian. Mobil terbang itu mempunyai jarak tempuh sekitar 70 kilometer dengan ketinggian terbang hingga sekitar 500 meter.
Berbeda dengan pesawat ringan pada umumnya, X2 juga tidak menggunakan joystick maupun pilot. Seluruh penerbangan dilakukan secara otonom dari satu titik ke titik tujuan sehingga pengguna hanya menentukan letak keberangkatan dan tujuan perjalanan.
"Jadi seperti pikulan online dari satu titik ke titik nan lain. Segala sesuatunya sudah diatur secara otonomos semuanya. Memang fokusnya lebih ke rekreasional, kemudian juga untuk kebutuhan emergency," ujarnya.
Meski demikian, Hari mengakui pembahasan mengenai izin mobil terbang dengan pemerintah Indonesia tetap berada pada tahap awal. Perusahaan baru mulai menjajaki beragam aspek nan diperlukan agar kendaraan udara seperti X2 suatu saat dapat beraksi di Indonesia.
"Kami belum sejauh itu, tapi sudah mulai menjajaki seperti apa kendaraan dengan spesifikasi terbang seperti itu. Jalannya tetap cukup panjang," kata Hari.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·