Musim Kemarau Berkah bagi Perajin Bata Merah di Brebes

1 jam yang lalu 2
Musim Kemarau Berkah bagi Perajin Bata Merah di Brebes Ilustrasi(MI/SUPARDJI RASBAN)

Musim kemarau nan melanda wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membawa berkah tersendiri bagi para perajin bata merah. Cuaca cerah dengan terik mentari nan menyengat menjadi aspek utama nan mempercepat proses penjemuran bata sebelum memasuki tahap pembakaran.

Kondisi ini terlihat di salah satu pusat produksi bata merah di Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo. Sejak pagi, para perajin tampak sibuk mencetak tanah liat di area penjemuran terbuka. Sengatan panas mentari nan stabil dari pagi hingga sore hari membikin bata lebih sigap kering dan siap dibakar dalam waktu nan lebih singkat dibandingkan saat musim penghujan.

Sukim, 53, salah seorang perajin setempat, mengungkapkan bahwa cuaca saat ini sangat mendukung produktivitasnya. Saat ditemui di lokasi, dia sedang mengawasi proses pembakaran 20.000 bata merah nan menyantap waktu selama 24 jam alias satu malam penuh.

"Untuk jumlah 20.000 bata, prosesnya dari mulai mencetak sampai siap bakar itu menyantap waktu sekitar satu bulan dengan tenaga empat orang," ujar Sukim saat berbincang mengenai siklus produksinya.

Terkait nilai ekonomi, Sukim menjelaskan bahwa nilai jual bata merah saat ini mencapai Rp1.000 per buah. Untuk satu siklus produksi sebanyak 20.000 bata, total biaya operasional nan dikeluarkan mencapai kisaran Rp5 juta.

Meski biaya produksi tetap ada, Sukim mengaku tetap mendapatkan margin untung nan cukup untuk menghidupi keluarga. "Masih ada untung, sekitar 20 persen," tambahnya.

Sistem pemasaran bata merah di Desa Banjarharjo ini tergolong sederhana namun efektif. Para pembeli biasanya langsung datang ke letak produksi untuk memesan secara mandiri. Dengan cuaca nan diprediksi tetap bakal tetap panas dalam beberapa waktu ke depan, para perajin berambisi dapat memaksimalkan jumlah produksi guna memenuhi permintaan pasar nan terus mengalir.

Selengkapnya