Jakarta, CNBC Indonesia - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa angin segar bagi perajin tahu dan tempe. Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mencatat permintaan produk tahu dan tempe meningkat sekitar 20% seiring kembali berjalannya program tersebut.
Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan, saat penyelenggaraan MBG sempat terhenti, penjualan tahu dan tempe ikut terdampak cukup besar. Namun, kondisi mulai membaik setelah program kembali berjalan.
"Kemarin sebenarnya terpengaruh juga ya tentang MBG itu ya. Kemarin dengan berhentinya MBG itu ya penjualan sangat turun drastis juga. Alhamdulillahnya ini dengan MBG melangkah kembali, BGN juga sudah punya pemimpin nan baru ya, kami berambisi sih jadi lebih baik. Alhamdulillah sudah mulai baik lah penjualan," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Jumat (24/7/2026).
Menurut dia, faedah MBG tidak hanya dirasakan oleh perajin tahu dan tempe, tetapi juga pelaku upaya pangan lainnya seperti peternak telur. Sebab, tahu dan tempe menjadi salah satu menu nan rutin disajikan dalam paket makanan program tersebut.
"Kemarin ya terasa banget. nan terasa kan bukan hanya tahu tempe, telur juga kan? Jadi MBG ini berakibat baik sebenarnya untuk tahu tempe, lantaran kan tahu tempe itu rutin selalu ada di omprengnya (menu makan) anak-anak. Itu berakibat baik," jelasnya.
Perajin membikin tempe di industri rumahan skala mini di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). Kenaikan biaya bahan baku utama itu dilaporkan jadi penyebab berhentinya produksi sejumlah industri rumahan tempe dan tahu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki Foto: Perajin membikin tempe di industri rumahan skala mini di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki
Berdasarkan laporan nan diterima Gakoptindo dari anggotanya di beragam daerah, penyelenggaraan MBG mendorong peningkatan produksi sekitar 20%.
"20% peningkatannya. Data nan kami sempat dapatkan ya itu peningkatan di perajin tuh 20% dari produksinya," ungkap dia.
Ia pun menilai akibat program MBG terhadap upaya perajin tahu tempe sangat terasa.
"Sangat terasa, sangat," ucapnya.
Di sisi lain, Wibowo memastikan polemik mengenai dapur MBG fiktif tidak berakibat terhadap pasokan tahu dan tempe nan disalurkan ke dapur resmi. Menurut dia, dapur nan bermasalah memang tidak menjalankan aktivitas produksi sehingga tidak menyerap bahan baku dari perajin.
Ia mengaku memahami kondisi tersebut lantaran juga mengelola yayasan nan menaungi sejumlah dapur MBG.
"Iya lantaran kan saya Ketua Yayasan nan menaungi dapur-dapur. Jadi saya juga tahu lah memahami hal-hal itu. Dan alhamdulillah jika kita berupaya di jalur nan benar. Jadi jika dapur-dapur nan dia itu dapur fiktif, ya tentu kan dia tidak berproduksi. Jadi peningkatan permintaan tahu tempe ya dengan dapur nan resmi ini, dapur nan sudah eksis lah," jelas Wibowo.
Meski permintaan mulai pulih berkah MBG, Gakoptindo mengingatkan tantangan perajin belum sepenuhnya selesai. Mereka tetap menghadapi kenaikan beragam biaya produksi seperti logistik, bahan bakar, hingga kemasan, sementara nilai jual tahu dan tempe susah dinaikkan lantaran daya beli masyarakat tetap terbatas.
"Kalau naik harganya nggak ada nan beli nanti," tukas dia.
Karena itu, para perajin berambisi program MBG dapat terus melangkah secara konsisten agar permintaan tahu dan tempe tetap terjaga sekaligus menopang keberlangsungan upaya anggotanya.
(wur)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·