Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi inti Jepang kembali meningkat pada Juni 2026 seiring lonjakan nilai minyak mulai merembet ke perekonomian nan lebih luas. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa bentrok di Timur Tengah, bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran, bakal terus mendorong kenaikan biaya hidup dan memaksa Bank of Japan (BOJ) mempertimbangkan kenaikan suku kembang lebih cepat.
Mengutip CNBC International, Jumat (24/7/2026), inflasi inti Jepang nan tidak memasukkan nilai pangan segar tercatat 1,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi ahli ekonomi nan disurvei Reuters dan menjadi kenaikan pertama sejak Maret.
Sementara itu, inflasi umum naik menjadi 1,7% dari 1,5% pada Mei. Adapun inflasi core-core, nan tidak memasukkan nilai pangan segar dan energi, justru turun menjadi 1,7%, level terendah sejak Agustus 2022.
Meski pemerintah Jepang tetap memberikan subsidi energi, akibat kenaikan nilai minyak mulai terasa. Harga daya hanya turun 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya, jauh lebih mini dibandingkan penurunan 2,5% pada Mei.
Di sisi lain, bumi upaya menghadapi tekanan biaya nan semakin besar. Indeks nilai produsen (Producer Price Index/PPI) Jepang pada Juni melonjak 7,1%, menjadi level tertinggi sejak Maret 2023. Ini mencerminkan meningkatnya biaya produksi akibat lonjakan nilai energi.
Jepang menghadapi tekanan ganda. Selain krisis di Timur Tengah nan mengganggu pasokan daya global, pelemahan yen ke level terendah dalam beberapa dasawarsa juga membikin biaya impor semakin mahal.
Data perdagangan nan dirilis pekan ini menunjukkan nilai impor minyak bumi Jepang melonjak lebih dari 59%dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Menurut International Energy Agency (IEA), Jepang memenuhi lebih dari 87% kebutuhan energinya melalui impor, sehingga sangat rentan terhadap gejolak nilai minyak dunia.
Pada perdagangan Jumat, yen berada di kisaran 163,82 per dolar AS, sementara indeks saham Nikkei 225 turun sekitar 2,1% setelah info inflasi dirilis. Tekanan inflasi nan kembali meningkat juga memicu spekulasi bahwa Bank of Japan dapat mempercepat kenaikan suku bunga.
Reuters sebelumnya melaporkan, mengutip sumber nan mengetahui pembahasan internal BOJ, bahwa bank sentral Jepang tetap mewaspadai akibat inflasi nan lebih tinggi dari perkiraan pasar. Menurut sumber tersebut, sebagian kreator kebijakan di BOJ menilai pelemahan yen dan kenaikan nilai bahan bakar akibat bentrok Iran berpotensi mendorong inflasi lebih cepat, sehingga membuka kesempatan kenaikan suku kembang dilakukan lebih garang dari nan diperkirakan sebelumnya.
(sef/sef)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·