Perang Saudara di Arab! Kelompok pro-Iran Serang Tentara, 16 Tewas

5 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata di Yaman kembali pecah dan menewaskan sedikitnya 16 tentara pemerintah akibat serangan masif nan dilancarkan oleh kelompok Houthi di Kegubernuran Hodeidah. Insiden berdarah ini dikonfirmasi oleh sejumlah pejabat pemerintah dan tim medis setempat sebagai bentrok paling keras nan terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip laporan Al Jazeera, minggu (05/07/2026), pertempuran sengit tersebut meletus di wilayah Jabal Dabbas nan terletak di sepanjang pantai barat Yaman. Sumber militer menyatakan bahwa milisi Houthi sempat meluncurkan serangan mendadak sejak Jumat malam dan sukses merebut pos-pos pertahanan pemerintah, sebelum akhirnya pasukan propemerintah melancarkan serangan jawaban untuk merebut kembali posisi mereka pada Sabtu pagi.

Sumber medis melaporkan bahwa sejumlah rumah sakit di sekitar pesisir Laut Merah telah menerima 16 jenazah tentara propemerintah dan merawat 22 korban luka-luka. Korban tewas dilaporkan kebanyakan berasal dari wilayah Tihama nan sedang bekerja menjaga garis depan pertahanan tersebut.

Seorang perwira militer dari pasukan pemerintah mengungkapkan bahwa penyerangan ini menjadi operasi militer Houthi nan paling mematikan dan menyantap banyak korban jiwa dalam beberapa tahun terakhir. Ia menambahkan bahwa milisi Houthi mengerahkan pasukan penembak jitu nan menjadi penyebab utama gugurnya belasan tentara, sebelum akhirnya mereka membombardir pos pertahanan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) serta mortir.

"Ini adalah serangan Houthi paling mematikan dalam bertahun-tahun," ungkap perwira dari pasukan pro-pemerintah tersebut secara anonim lantaran tidak mempunyai otoritas resmi untuk berbincang kepada media.

Meskipun digempur dari beragam sudut, pejabat militer lainnya menegaskan bahwa pasukan pemerintah akhirnya sukses memukul mundur serangan Houthi setelah terlibat dalam pertempuran sengit selama beberapa jam.

Pihak militer memastikan bahwa golongan Houthi juga mengalami kerugian besar dan menderita banyak korban jiwa di pihak mereka, meski jumlah pasti milisi nan tewas maupun luka belum dirinci secara detail.

"Para prajurit tewas saat mempertahankan tanah dan kehormatan mereka," tulis Walid al-Qudaimi, seorang menteri negara sekaligus personil kabinet pemerintah Yaman nan diakui secara internasional, melalui akun resminya di platform X.

Sebagai info latar belakang, golongan Houthi telah mengangkat senjata dan memerangi pemerintah Yaman nan sah serta diakui secara internasional sejak tahun 2015 silam. Hingga saat ini, golongan pemberontak tersebut sukses menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk kota pelabuhan strategis Hodeidah.

Di sisi lain, pihak pemerintah Yaman terpaksa memindahkan pusat operasional mereka ke kota Aden dan mempertahankan kendali penuh atas sebagian besar wilayah selatan. Garis depan pertempuran kedua belah pihak sebenarnya sempat membeku sejak adanya kesepakatan gencatan senjata nan diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022 lalu.

Namun, eskalasi kekerasan sporadis terpantau terus terjadi di beberapa titik perbatasan maritim dan darat. Bentrokan mematikan terbaru ini pecah tidak lama setelah golongan Houthi melayangkan ancaman terbuka untuk menyerang sejumlah airport dan akomodasi vital di Arab Saudi nan merupakan penyokong utama pemerintah Yaman.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya