Jakarta, CNBC Indonesia - Penyaluran rumah susun (rusun) subsidi tetap jauh tertinggal dibanding rumah tapak. Hingga 23 Juli 2026, BP Tapera mencatat penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah tapak telah mencapai 111.527 unit, sementara rusun subsidi baru menyentuh 10 unit.
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengatakan rendahnya realisasi tersebut bukan disebabkan minimnya kebutuhan masyarakat, melainkan lantaran skema pembiayaan dan nilai jual rusun subsidi nan tetap menggunakan patokan lama sehingga belum menarik bagi pengembang.
"Kenapa ini baru 10? Karena memang saat ini nan tetap bertindak adalah skema lama dengan nilai lama nan tetap mengikuti ketentuan tahun 2021. Menurut hitung-hitungan teman-teman pengembang, secara keekonomian harganya belum masuk sehingga belum menarik untuk dikembangkan," kata Heru dalam konvensi pers BP Tapera, Jumat (4/7/2026).
Menurutnya, kebutuhan kediaman vertikal justru semakin mendesak lantaran sebagian besar backlog perumahan berada di wilayah perkotaan. Di kota-kota besar, nilai lahan nan terus meningkat membikin pembangunan rumah tapak semakin susah dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
"Kalau bicara perkotaan, apalagi Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya, pendekatan rumah tapak tentu sudah susah lantaran nilai lahannya tidak lagi terjangkau untuk skema rumah subsidi. Salah satu solusinya adalah penyediaan kediaman vertikal nan layak, berkualitas, dan terjangkau," ujarnya.
Pemerintah telah menyelesaikan kajian penyesuaian nilai jual rusun subsidi. Selain meningkatkan pemisah harga, pemerintah juga membuka kesempatan pembangunan unit dengan luas lebih besar agar sesuai dengan kebutuhan family masyarakat berpenghasilan rendah.
"Keputusan Menteri PKP nan baru sudah menyesuaikan rentang nilai per unit. Luasan unit juga dibuka opsinya sampai jenis 45 sehingga masyarakat mempunyai pilihan kediaman nan lebih sesuai dengan kebutuhan keluarganya," ujar Heru.
Tak hanya itu, pemerintah juga tengah memfinalisasi skema pembiayaan baru agar angsuran rusun subsidi lebih terjangkau. Salah satu opsi nan sedang dibahas adalah pemberian tenor hingga 40 tahun dan penerapan kembang berjenjang pada masa awal kredit.
"Kami sedang memfinalisasi skema pembiayaan, termasuk opsi tenor sampai 40 tahun dan suku kembang berjenjang. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diluncurkan sehingga realisasi rumah susun subsidi tidak lagi hanya 10 unit, tetapi bisa meningkat menjadi ribuan unit," kata Heru.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·