Ilustrasi.(Magnific)
TAIWAN resmi memulai latihan militer tahunan Han Kuang pada Rabu (5/8) yang dirancang unik untuk mensimulasikan respons terhadap potensi invasi oleh Tiongkok. Latihan tembak langsung ini bermaksud menguji keahlian tentara Taiwan dalam mempertahankan operasi pertahanan selama 24 jam penuh.
Selain pertahanan konvensional, latihan ini difokuskan untuk menangkal strategi area abu-abu (gray-zone tactics) Beijing, serangkaian tindakan provokatif nan berada di periode pemisah perang terbuka. Latihan Han Kuang tahun ini dijadwalkan berjalan selama 10 hari di beragam letak strategis di seluruh pulau.
Inovasi Komunikasi dan Kemandirian Tempur
Salah satu aspek baru dalam latihan kali ini adalah penerapan metode komunikasi nan terinspirasi dari militer Amerika Serikat, termasuk teknik backbriefs. Dalam metode ini, bawahan menjelaskan kembali kepada komandan mengenai rencana penyelenggaraan misi nan ditugaskan.
Para mahir menyatakan bahwa latihan komunikasi ini bermaksud untuk mendorong prajurit di garis depan agar lebih berdikari dan efektif dalam situasi pertempuran nan dinamis. Hal ini dianggap krusial jika rantai komando pusat mengalami gangguan saat terjadi serangan.
Mobilisasi Cadangan Terbesar
Tahun ini, Taiwan mengerahkan tim persediaan terbesar dalam sejarah latihan mereka, melibatkan lebih dari 5.000 personil jasa nan terbagi dalam dua brigade. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lampau nan melibatkan sekitar 3.000 personel cadangan.
Latihan ini bakal menguji seberapa sigap personel persediaan dapat dimobilisasi dari mode siaga masa tenteram ke tugas aktif penuh. Selain itu, militer juga memamerkan alutsista terbaru, termasuk tank M1A2T Abrams buatan AS. Taiwan mengakuisisi 108 tank ini sejak 2019, dengan batch terakhir tiba pada April lalu.
Ketahanan Perkotaan dan Gangguan Internet
Aspek pertahanan sipil juga menjadi prioritas melalui latihan ketahanan perkotaan di kota-kota besar seperti Taipei, Taichung, dan Kaohsiung. Dalam simulasi ini, kecepatan internet seluler bakal dikurangi selama sekitar 30 menit untuk mensimulasikan gangguan telekomunikasi akibat serangan siber alias fisik.
Langkah ini diambil untuk menguji respons populasi terhadap disrupsi jasa info nan mungkin terjadi selama bentrok berlangsung.
Konteks Geopolitik:
Beijing menganggap Taiwan nan demokratis sebagai provinsi nan memisahkan diri dan kudu disatukan kembali, apalagi dengan kekerasan jika perlu. Tekanan militer Tiongkok meningkat dalam beberapa tahun terakhir dengan pengiriman pesawat dan kapal perang nyaris setiap hari ke dekat wilayah Taiwan.
Tantangan Anggaran dan Dukungan AS
Meskipun Taiwan terus memperkuat pertahanannya, tantangan anggaran tetap ada. Parlemen Taiwan baru-baru ini menyetujui anggaran tambahan sebesar Rp400 triliun (US$24,8 miliar) untuk pembelian senjata AS, nomor nan lebih rendah dari usulan Presiden Lai Ching-te sebesar Rp645 triliun (US$40 miliar).
Di sisi lain, ketidakpastian politik di Amerika Serikat turut membayangi. Meski AS tetap menjadi pendukung informal utama, beberapa paket penjualan senjata senilai miliaran dolar tetap menunggu lampu hijau dari Washington. Pernyataan Donald Trump nan menyebut penjualan senjata sebagai kartu negosiasi dengan Beijing menambah kompleksitas hubungan diplomatik kedua negara di masa depan. (The Independent/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·