Tak Cukup Bermodalkan Tampang, Dewick Beberkan Kunci Bangun Personal Branding Jadi Kreator Review

1 jam yang lalu 3
Tak Cukup Bermodalkan Tampang, Dewick Beberkan Kunci Bangun Personal Branding Jadi Kreator Review Ilustrasi(Dok Istimewa)

DI tengah pesatnya pertumbuhan industri kreator digital, keahlian berbincang di depan kamera alias mempunyai penampilan menarik dinilai bukan lagi satu-satunya aspek nan menentukan kesuksesan. Hal itu diungkapkan pembuat konten Dewick, nan menilai individual branding justru menjadi fondasi utama bagi seorang pembuat review untuk membangun kepercayaan audiens sekaligus menjaga eksistensi di tengah persaingan nan semakin ketat.

Perempuan berjulukan original Robiatul Adawiyah tersebut sekarang dikenal sebagai salah satu pembuat konten asal Bangkalan, Madura, nan mempunyai lebih dari 6,1 juta pengikut di TikTok melalui akun @Dewick02. Selain aktif membagikan konten beauty dan lifestyle, Dewick juga sukses membangun pekerjaan sebagai pembuat review sekaligus affiliate nan dipercaya bekerja sama dengan beragam brand.

Menurut Dewick, banyak orang beranggapan bahwa menjadi pembuat review cukup dengan mempunyai wajah menarik alias keahlian berbincang nan baik di depan kamera. Padahal, menurutnya, aspek nan membikin audiens memperkuat mengikuti seorang pembuat adalah karakter dan identitas nan konsisten.

“Menurutku elok alias tampan saja tidak cukup. Orang bakal lebih ingat jika kita punya karakter unik dan selalu konsisten dengan apa nan kita tampilkan,” ujar Dewick.

Ia menjelaskan, individual branding bukan sekadar membangun gambaran di media sosial, melainkan gimana seorang pembuat bisa menunjukkan nilai, karakter, dan langkah berkomunikasi nan membikin audiens merasa dekat. Ketika identitas tersebut terbentuk, konten nan dibuat bakal lebih mudah dikenali meski berada di tengah ribuan video nan muncul setiap hari.

Bagi Dewick, membangun individual branding juga berfaedah memahami siapa sasaran audiens nan mau dijangkau. Sejak aktif membikin konten pada 2019, dia mengaku terus mencoba beragam konsep sebelum akhirnya menemukan style nan paling sesuai dengan dirinya.

Perjalanan itu dimulai dari konten lipsync, kemudian bersambung ke video slow motion nan sempat terkenal saat pandemi Covid-19. Setelah itu, dia bereksperimen membikin konten drama pendek sebelum akhirnya lebih konsentrasi menghadirkan review produk kecantikan dan konten random nan sekarang menjadi identitasnya.

“Aku sempat mencoba beberapa jenis konten. Dari situ saya belajar bahwa menemukan karakter itu memang butuh proses. Jangan takut mencoba sampai betul-betul menemukan style nan paling nyaman,” katanya.

Menurut Dewick, salah satu kesalahan nan sering dilakukan pembuat pemula adalah terlalu sering mengikuti tren tanpa mempunyai identitas nan jelas. Akibatnya, konten memang bisa sesekali viral, tetapi susah membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.
Ia menilai tren memang krusial untuk memperluas jangkauan, tetapi karakter tetap menjadi argumen utama seseorang memilih mengikuti akun tertentu.
“Tren itu boleh diikuti, tapi jangan sampai kehilangan jati diri. Orang biasanya follow lantaran suka sama karakter kreatornya, bukan hanya lantaran satu video viral,” tuturnya.

Selain karakter, Dewick juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi. Menurutnya, individual branding tidak dibangun melalui satu alias dua unggahan, melainkan dari kebiasaan menghadirkan konten dengan kualitas dan style nan relatif konsisten dalam jangka waktu panjang.

Ia mengaku selalu berupaya mempertahankan style komunikasi nan sederhana dan mudah dipahami. Hal tersebut dilakukan agar penonton merasa seperti sedang mendengarkan rekomendasi dari teman, bukan sekadar memandang promosi sebuah produk.

“Aku mau penonton merasa nyaman. Jadi waktu review produk, saya pakai bahasa nan sederhana dan sesuai pengalamanku sendiri,” ungkapnya.

Kejujuran juga menjadi bagian nan tidak bisa dipisahkan dari individual branding nan dia bangun. Dewick percaya, kepercayaan audiens merupakan aset paling berbobot bagi seorang pembuat review. Karena itu, dia selalu berupaya memberikan ulasan berasas pengalaman menggunakan produk, tanpa memberikan klaim nan berlebihan.

Menurutnya, membangun kepercayaan memang memerlukan waktu nan panjang. Namun ketika audiens sudah percaya, hubungan tersebut bakal memperkuat jauh lebih lama dibanding sekadar mengejar nomor penjualan alias konten nan viral sesaat.

“Kalau audiens sudah percaya, mereka bakal kembali lagi memandang konten kita. Itu nan menurutku paling krusial sebagai pembuat review,” katanya.

Perjalanan Dewick membangun individual branding mulai menunjukkan hasil ketika dia memutuskan konsentrasi menjadi TikTok Affiliate pada 2023. Berkat style penyampaian nan konsisten dan dekat dengan audiens, beragam brand mulai memberikan kepercayaan untuk bekerja sama dalam mempromosikan produk kecantikan.

Dari aktivitas tersebut, Dewick mengaku bisa mengubah kehidupannya. Ia nan sebelumnya pernah bekerja menjaga toko dengan penghasilan sekitar Rp35 ribu per hari sekarang sukses mempunyai rumah dan mobil dari hasil bekerja sebagai pembuat konten.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa pencapaian terbesar bukanlah soal materi. Baginya, kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa memberikan faedah bagi keluarga. Salah satu momen nan paling dia syukuri adalah saat memperoleh bingkisan paket umrah untuk dua orang dari brand IRFISKIN nan kemudian dia berikan kepada kedua orang tuanya.
“Aku selalu berterima kasih lantaran pekerjaan ini bukan hanya mengubah hidupku, tapi juga bisa membikin orang tua bahagia. Itu nan membikin saya semakin semangat untuk terus berkarya,” ujarnya.

Selain memperoleh bingkisan umrah, Dewick juga pernah menerima beragam corak apresiasi dari sejumlah brand, termasuk bingkisan berupa emas dan seekor sapi dari brand kecantikan SYB. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus menjaga kualitas konten sekaligus mempertahankan kepercayaan nan telah diberikan oleh audiens maupun para mitra.

Di tengah persaingan nan semakin kompetitif, Dewick berpesan agar pembuat pemula tidak terlalu konsentrasi mengejar jumlah pengikut. Menurutnya, membangun individual branding nan kuat bakal memberikan akibat nan jauh lebih besar dalam jangka panjang. 

“Jangan sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Bangun karakter sendiri, terus belajar, dan tetap konsisten. Kalau individual branding sudah terbentuk, orang bakal mengenal kita lantaran karakter unik nan kita miliki,” pungkas Dewick.

Melalui perjalanan nan telah dia lalui, Dewick membuktikan bahwa menjadi pembuat review tidak hanya memerlukan keahlian tampil di depan kamera. Lebih dari itu, dibutuhkan identitas nan kuat, kejujuran dalam menyampaikan informasi, serta konsistensi dalam berkarya agar kepercayaan audiens dapat terus terjaga. Bagi Dewick, individual branding bukan sekadar strategi membangun popularitas, melainkan investasi jangka panjang nan bakal menentukan gimana seorang pembuat dikenang dan dipercaya oleh para pengikutnya. (H-2)
 

Selengkapnya