Terang-terangan Lawan China, Tetangga RI Umumkan Rencana Besar Ini

16 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Udara Filipina mengumumkan rencana besar untuk meningkatkan akomodasi pangkalan militer strategis mereka di dua pulau terdepan nan tengah diperebutkan oleh China. Langkah peningkatan prasarana ini sengaja diambil oleh Manila sebagai bagian dari program modernisasi militer demi merespons eskalasi ketegangan wilayah nan terus meningkat dengan Beijing.

Mengutip laporan Newsweek, Senin (6/7/2026), sekutu dekat Amerika Serikat (AS) tersebut juga bakal mengakuisisi sejumlah pesawat patroli jarak jauh, helikopter angkut medium Black Hawk tambahan, dan helikopter Bell 412EPX untuk misi pencarian dan pengamanan (SAR). Selain itu, Manila juga mendatangkan radar pengawas mutakhir guna memperkuat pemantauan maritim mereka di wilayah sengketa.

Komandan Angkatan Udara Filipina, Letnan Jenderal Arthur Cordura, menjelaskan bahwa armada baru ini bakal mendongkrak keahlian negara dalam mengawasi dan merespons pergerakan lawan. Khususnya, untuk membendung lonjakan aktivitas kapal penjaga pantai serta angkatan laut China nan beraksi di wilayah perairan klaim Manila.

"Angkatan Udara tetap berkomitmen pada modernisasi terlepas dari beragam tantangan, dengan konsentrasi nan lebih besar pada kesiapan misi, interoperabilitas dengan sekutu, dan membangun kekuatan multi-domain nan kredibel," tegas Letnan Jenderal Cordura dalam sebuah aktivitas memperingati hari jadi angkatan ke-79.

Dua letak nan dicanangkan oleh Jenderal Cordura untuk pangkalan strategis tersebut meliputi Pulau Thitu, nan dikenal di Manila sebagai Pag-asa dan di Beijing sebagai Zhongye Dao. Pulau Thitu merupakan pulau alami terbesar kedua di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan, sekaligus menjadi satu-satunya pulau di gugusan tersebut nan dihuni oleh populasi sipil permanen dan mempunyai markas militer Filipina.

Lokasi kedua adalah Santa Ana nan berada di provinsi utara Cagayan, tepat di dekat Selat Luzon nan merupakan jalur sempit logistik sangat vital di dekat Taiwan. Wilayah Santa Ana dinilai bakal menjadi kunci utama bagi upaya AS untuk memblokir pergerakan pasukan China menuju Samudra Pasifik jika bentrok bersenjata betul-betul pecah di masa depan.

Selain itu, Santa Ana merupakan satu dari empat letak baru nan ditetapkan di bawah Perjanjian Kerja Sama Pertahanan nan Ditingkatkan (EDCA) antara Washington dan Manila. Kerja sama ini memungkinkan pasukan militer AS mempunyai akses rotasi penuh ke pangkalan militer Filipina untuk mendukung latihan bersama, penyimpanan peralatan perang, serta peningkatan infrastruktur.

Filipina sendiri diketahui terikat dalam perjanjian pertahanan berbareng (mutual defense treaty) nan sudah melangkah selama beberapa dasawarsa dengan AS. Ketegangan nan terus meroket di area ini pada akhirnya memicu kekhawatiran dunia mengenai akibat terseretnya Washington ke dalam konfrontasi militer langsung melawan China nan bersenjata nuklir.

Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, AS sendiri terus memperdalam kemitraan militer dengan Filipina melalui beragam tindakan nyata di lapangan. Kemitraan tersebut mencakup pagelaran latihan perang tahunan Balikatan terbesar sepanjang sejarah pada Mei lalu, pengerahan rudal penghancur kapal milik AS, hingga patroli berbareng di dekat wilayah sengketa Scarborough Shoal.

Melihat manuver tersebut, Beijing berulang kali melayangkan protes keras terhadap keterlibatan AS nan dinilai semakin garang di Filipina. Pihak pemerintah China menuduh Manila sengaja dimanfaatkan sebagai bidak catur oleh Washington dalam strategi geopolitik untuk membendung pengaruh dunia China.

Namun, beberapa analis militer asal China menilai bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan intervensi militer secara langsung demi Filipina. Pihak lembaga kajian di Beijing menilai kehadiran kekuatan militer AS di sana hanya mempunyai nilai guna nan terbatas jika kudu berhadapan langsung dengan musuh kelas berat seperti militer China.

"Tujuan utama dari penguatan akses militer ini bukanlah persiapan nyata untuk perang, melainkan sebuah sikap strategis, pembendungan, dan atrisi: memanfaatkan kelebihan geografis Filipina untuk memperkuat posisi pasukan AS di sekitar Laut China Selatan dan Selat Taiwan," tulis lembaga kajian South China Sea Strategic Situation Probing Initiative dalam analisisnya.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya