Trump Klaim Iran Ingin Damai, tapi Ancaman Perang Masih Ada

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Iran sekarang mau mencapai kesepakatan tenteram setelah serangkaian serangan militer terbaru Washington. Meski demikian, Trump mengaku belum bisa memastikan apakah bentrok antara kedua negara betul-betul bakal berhujung alias justru kembali meningkat menjadi perang skala penuh.

Berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One saat kembali dari Inggris menuju Washington, Trump mengatakan serangan terbaru AS telah memberikan tekanan besar kepada Teheran

"Mereka sangat mau membikin kesepakatan. Mereka menelepon beberapa waktu lalu. Mereka sangat mau membikin kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak untuk membikin kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka bakal menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya," ujar Trump, seperti dikutip CNBC International, Jumat (10/7/2026).

Trump juga menegaskan AS bakal terus merespons setiap serangan Iran dengan kekuatan nan jauh lebih besar.

"Saya katakan kita menyerang mereka 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kita, kita bakal menyerang mereka 20 kali lipat, dan kita melakukannya tadi malam," katanya.

Ia menambahkan bahwa andaikan perang kembali pecah, Washington bakal "memenangkannya dengan sangat cepat" karena, menurutnya, AS sudah unggul secara militer.

Meski menyatakan Iran menginginkan perdamaian, Trump tidak bisa memastikan apakah kedua negara bakal kembali terlibat dalam bentrok terbuka. Saat ditanya mengenai kemungkinan perang skala penuh, dia hanya menjawab, "Saya tidak tahu," sembari menegaskan bahwa keahlian militer Iran sekarang sudah jauh melemah.

Di sisi lain, operasi militer AS tetap terus berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya kembali melancarkan serangan pada Rabu untuk melemahkan keahlian Iran menyerang kapal jual beli dan pelaut sipil di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis nan menjadi salah satu urat nadi perdagangan daya dunia.

Sebelumnya, militer AS juga menyerang sekitar 170 sasaran militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz. Pemerintah AS turut mencabut pengecualian nan sebelumnya memungkinkan Iran tetap menjual minyaknya, sehingga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Pernyataan Trump muncul hanya beberapa pekan setelah Washington dan Teheran mengumumkan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik. Namun, saat menghadiri KTT NATO, Trump justru meragukan masa depan kesepakatan tersebut.

"Saya rasa sudah berakhir. Saya tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Sejauh nan saya ketahui, sudah berakhir," kata Trump, seraya menyebut upaya negosiasi lanjutan sebagai "buang-buang waktu."

Iran membantah langkah AS tersebut. Dalam pernyataan resminya pada Kamis, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan Washington sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman nan baru disepakati kurang dari empat minggu lalu. Teheran menegaskan bakal mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya serta menghukum pihak nan disebut sebagai agresor.

Ketegangan nan belum mereda turut memengaruhi pasar daya global. Pada perdagangan Kamis pagi, nilai minyak mentah Brent untuk pengiriman September memperkuat di atas US$78 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$73,55 per barel. Kenaikan nilai mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa bentrok di kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, tetap berpotensi mengganggu pasokan daya dunia.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya