Ilustrasi.(Magnific)
AMERIKA Serikat dilaporkan tengah melakukan mobilisasi besar-besaran pasukan, tenaga medis, dan persenjataan ke Timur Tengah. Langkah ini dilakukan untuk memberikan opsi militer nan lebih kuat bagi Presiden Donald Trump nan sedang mempertimbangkan ekspansi bentrok terhadap Iran.
Dalam sepekan terakhir, pasukan operasi unik dikerahkan dari pangkalan-pangkalan di AS menuju area tersebut. Berdasarkan info pencarian penerbangan dan keterangan pejabat AS, skuadron jet tempur ditempatkan di beragam titik di Timur Tengah, sementara pesawat pengebom jarak jauh di pangkalan AS dan Inggris, termasuk pengebom B-1, berada dalam status siaga tinggi.
Persiapan Medis dan Logistik Tempur
Selain kekuatan tempur, lebih dari 150 tenaga medis tiba di Landstuhl Regional Medical Center di Jerman. Rumah sakit ini merupakan letak utama untuk menangani tentara nan terluka dalam pertempuran di Timur Tengah. Mobilisasi ini menjadi indikasi terbaru bahwa Trump serius mempertimbangkan eskalasi setelah serangan Iran di Yordania menewaskan tiga tentara Amerika, disusul kematian prajurit keempat di Irak akibat drone Iran.
Pensiunan Jenderal Joseph Votel, mantan komandan Centcom, menilai lonjakan pasukan ini bermaksud memberikan elastisitas maksimal bagi presiden. "Ide besarnya adalah memberikan opsi sebanyak mungkin kepada presiden dan menteri pertahanan," ujar Votel.
Target terhadap Houthi dan Keamanan Maritim
Pengerahan pasukan ini juga dirancang untuk meningkatkan kapabilitas AS dalam menghadapi militan Houthi di Yaman. Kelompok tersebut baru-baru ini menakut-nakuti bakal memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi.
Pada Rabu (22/7), suatu kapal tanker di Laut Merah dilaporkan terkena proyektil nan memicu kebakaran. juru bicara militer Houthi mengeklaim pihaknya menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi menggunakan rudal dan drone.
U.S. Central Command (Centcom) menyatakan telah meluncurkan serangan selama 12 hari berturut-turut terhadap target-target Iran untuk mendegradasi keahlian mereka dalam menakut-nakuti pelayaran sipil dan komersial di perairan regional.
Dukungan Anggaran dan Perdebatan Politik
Di Washington, DPR nan dikuasai Partai Republik menyetujui kerangka anggaran sebesar US$95 miliar, nan mencakup tambahan US$73 miliar untuk pendanaan militer dan intelijen. Namun, langkah ini memicu perdebatan. Beberapa personil parlemen cemas support biaya tambahan bakal dianggap sebagai persetujuan Kongres terhadap perang itu sendiri.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengungkapkan bahwa biaya perang sejauh ini mencapai lebih dari US$37 miliar. Di sisi lain, pihak Demokrat menuduh Trump melangkahi kewenangan Kongres dalam mengobarkan perang melawan Iran nan sekarang memasuki bulan kelima.
Ancaman Balasan dari Teheran
Presiden Trump terus meningkatkan retorikanya dengan menakut-nakuti bakal mengebom prasarana strategis Iran, seperti jembatan alias pembangkit listrik, setiap kali Teheran menyerang kapal di jalur perairan strategis. Ia apalagi menyebut kemungkinan serangan terhadap Gunung Pickaxe, letak nan dicurigai sebagai tempat pengayaan nuklir Iran.
Menanggapi perihal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan melalui media sosial bahwa setiap agresi terhadap prasarana Iran bakal memicu respons nan kuat dan menentukan. Hingga saat ini, bentrok tersebut merenggut nyawa 18 tentara AS dan melukai ratusan lain, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus menakut-nakuti pasokan minyak global. (The Wall Street Journal/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·