Vietnam Tiba-Tiba Digempur AS, Pemerintah Habisi Industri Ini

13 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam mulai menggencarkan perang terhadap industri peralatan tiruan nan selama puluhan tahun tumbuh subur di negaranya. Langkah ini dilakukan setelah mendapat tekanan keras dari Amerika Serikat (AS).

AS sebelumnya menilai Vietnam kandas melindungi kewenangan kekayaan intelektual. Ini menjadi salah satu pusat peredaran produk tiruan terbesar di dunia.

"Penegakan norma menjadi lebih ketat," kata seorang pedagang busana di Saigon Square nan menggunakan nama samaran Thanh Truc, seperti dikutip BBC International, Senin (6/7/2026).

Ia mengaku sebelumnya tetap leluasa menjual kaus replika Loewe nan di pasar internasional dibanderol sekitar US$500 alias setara Rp8,95 juta, tetapi dijualnya hanya US$17 alias sekitar Rp304.300. Menurutnya, razia kali ini jauh lebih serius dibanding operasi-operasi sebelumnya.

Awal tahun ini, polisi Vietnam menggerebek dua penyimpanan di pinggiran Kota Ho Chi Minh dan menemukan lebih dari 23.000 pasang sandal tiruan nan menggunakan logo Nike, Adidas, Crocs hingga Gucci. Seluruh peralatan tersebut disita dengan nilai mencapai 2 miliar dong Vietnam, alias sekitar US$76.053 (Rp1,36 miliar).

Tak jauh dari letak penggerebekan, sandal tiruan nan menyerupai produk mewah dengan nilai original mencapai US$900 (Rp16,11 juta) tetap dijual bebas hanya sekitar US$30 (Rp537.000) per pasang. Di pasar nan sama, tas "Chanel", kaus "Prada", hingga arloji "Rolex" tiruan juga dipajang secara terbuka.

Pada 7 Mei, pemerintah Vietnam meluncurkan operasi nasional untuk memberantas pelanggaran kewenangan kekayaan intelektual. Mulai dari peralatan palsu, pembajakan digital hingga penyalahgunaan merek dagang.

Langkah tersebut semakin diperketat setelah Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) pada April menetapkan Vietnam sebagai "priority foreign country", status nan diberikan kepada negara nan dinilai kandas menangani pelanggaran kewenangan kekayaan intelektual. Ini menjadi pertama kalinya dalam 13 tahun sebuah negara memperoleh label tersebut.

Menghadapi ancaman tarif jual beli dari pemerintahan Presiden Donald Trump, Hanoi berjanji meningkatkan penindakan pelanggaran kewenangan kekayaan intelektual sedikitnya 20% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Hasilnya, hanya dalam tiga pekan terakhir Mei, abdi negara menangani lebih dari 1.400 kasus pelanggaran.

Meski demikian, para pedagang mengaku sudah terbiasa menghadapi razia. Thanh Truc mengatakan biasanya sebelum pengawas datang, ada nan meniup peluit sebagai tanda peringatan.

"Setelah razia selesai, upaya kembali melangkah seperti biasa," ujarnya. Menurutnya, sekarang sebagian toko memang mengurangi pajangan peralatan bermerek, tetapi stok tetap disimpan di penyimpanan belakang.

Penindakan juga menyasar sindikat nan lebih besar. Pada 10 Juni, polisi di Provinsi Thanh Hoa membongkar jaringan kreator lebih dari 10.000 perhiasan tiruan nan meniru merek Bvlgari, Cartier, Louis Vuitton hingga Tiffany & Co. Sindikat tersebut disebut meraup untung terlarangan sekitar US$1,14 juta, alias setara Rp20,41 miliar.

Di sisi lain, pelaku industri fesyen lokal justru menyambut baik langkah pemerintah. Desainer asal Vietnam Thi Nguyen mengatakan maraknya peralatan tiruan selama ini merusak ekosistem upaya fesyen dalam negeri.

"Saya merasa lebih percaya diri beraksi di lingkungan upaya nan lebih bersih, lebih transparan, dan lebih adil. Ini bukan soal siapa nan menang alias kalah, tetapi mengembalikan keadilan antara produk original dan palsu," ujarnya.

Namun tidak semua masyarakat sepakat. Huy, pekerja kantoran di Da Nang, mengaku tetap memilih membeli peralatan tiruan lantaran jauh lebih murah.

"Menangkap penjual tidak menyelesaikan masalah. Kalau peralatan tiruan tetap bisa ditemukan dengan mudah, saya bakal tetap membelinya," katanya. Ia menilai produk tiruan lebih sesuai dengan keahlian finansial banyak penduduk Vietnam.

Pandangan serupa disampaikan Thi Thanh Huong Tran, guru besar madya di SKEMA Business School nan meneliti perilaku konsumsi etis. Menurutnya, tingginya permintaan peralatan tiruan tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat.

"Orang tahu peralatan itu palsu, tetapi ketika mereka tidak bisa membeli produk asli, itu menjadi pilihan nan paling masuk akal. Selama permintaan tetap ada, produsen dan penjual bakal terus menemukan langkah untuk bertahan," ujarnya.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya