Wapres Tetangga RI Mulai Dimakzulkan Hari Ini, Negara "Terbelah"

15 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Presiden Filipina Sara Duterte mulai menghadapi sidang pemakzulan pada Senin (7/7/2026) dalam proses norma nan diperkirakan tidak hanya menentukan nasib politiknya, tetapi juga menjadi penentu arah pemilihan presiden Filipina pada 2028. Persidangan ini sekaligus memperdalam perpecahan antara dua dinasti politik paling berpengaruh di negara itu, ialah family Duterte dan family Marcos, nan telah memicu gejolak politik hingga ke Senat.

Para analis menilai, terlepas dari putusan akhirnya, aspek terpenting adalah apakah masyarakat memandang proses persidangan berjalan secara setara alias justru didorong kepentingan politik.

"Jika persidangan ini dipandang bermotif politik alias tidak mempunyai kredibilitas, maka keraguan bakal tetap membayangi apapun hasil akhirnya," kata guru besar manajemen publik Universitas Makati, Ederson Tapia, dilansir Reuters.

Hingga sekarang belum dapat dipastikan berapa lama persidangan bakal berlangsung. Lamanya proses bakal berjuntai pada sejumlah faktor, mulai dari sengketa prosedural, jumlah saksi nan dihadirkan, hingga penyampaian perangkat bukti.

Sebagai perbandingan, sidang pemakzulan terhadap mantan Ketua Mahkamah Agung Filipina pada 2012 berjalan selama empat bulan. Untuk menjatuhkan vonis bersalah, diperlukan support sedikitnya 16 dari total 24 personil Senat.

Berbagai survei opini menunjukkan Sara Duterte tetap menjadi salah satu kandidat terkuat dalam pemilihan presiden 2028. Namun, andaikan dinyatakan bersalah, ambisinya untuk menjadi presiden dapat pupus.

Sebaliknya, Tapia menilai putusan bebas justru dapat memperkuat posisi politik Sara andaikan masyarakat menilai proses norma melangkah secara adil.

"Jika masyarakat menilai prosesnya berjalan adil, putusan bebas justru dapat memperkuat posisi politiknya," ujarnya.

Adapun sidang ini merupakan persidangan pemakzulan pertama terhadap seorang wakil presiden dalam sejarah Filipina.

Sara Duterte menghadapi sejumlah tuduhan, antara lain menyalahgunakan biaya publik, mempunyai kekayaan nan tidak dapat dijelaskan asal-usulnya, serta menakut-nakuti keselamatan Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara, dan mantan Ketua DPR Filipina.

Sara Duterte, putri mantan Presiden Rodrigo Duterte, membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menegaskan proses pemakzulan nan dijalaninya merupakan langkah nan bermotif politik.

Menanggapi pembelaan tersebut, ahli bicara tim penuntut dari DPR Filipina, Robert "Ace" Barbers, mengatakan tuduhan seperti itu memang sudah diperkirakan.

"Itu memang sudah diduga," ujarnya. "Kami bakal membiarkan bukti-bukti berbincang dengan sendirinya."

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Filipina, Jean Encinas-Franco, menilai kepercayaan masyarakat hanya dapat terjaga andaikan kedua pihak diberi kesempatan nan sama dalam menyampaikan argumentasi.

Ia mengingatkan pengalaman pemakzulan Presiden Joseph Estrada pada 2000, ketika Senat memutuskan untuk tidak membuka bukti penting. Keputusan itu memicu kemarahan publik, menghentikan proses persidangan, dan berujung pada demonstrasi besar-besaran nan akhirnya menggulingkan Estrada dari jabatannya pada Januari 2001.

"Mereka betul-betul kudu memastikan bahwa baik pihak penuntut maupun tim pembela diberi waktu dan kesempatan nan cukup untuk menyampaikan argumen mereka, sehingga masyarakat tidak memandang persidangan ini berpihak kepada salah satu kubu," katanya.

Sementara itu, pengacara Sara Duterte, Michael Poa, menegaskan tim pembela siap membuktikan bahwa seluruh tuduhan terhadap kliennya tidak berdasar. Ia menyebut pihaknya telah mempersiapkan pembelaan untuk menunjukkan bahwa tuduhan tersebut "tidak berdasar."

Namun Poa belum dapat memastikan apakah Sara Duterte bakal datang langsung pada sidang perdana, mengingat surat panggilan memperbolehkannya diwakili kuasa hukum.

Persidangan ini juga menjadi puncak bentrok antara Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Sara Duterte.

Keduanya merupakan pewaris dua dinasti politik terbesar di Filipina nan maju sebagai pasangan dalam pemilu 2022 dan sukses memenangkan pemilihan.

Namun, hubungan keduanya kemudian memburuk dan berkembang menjadi perseteruan politik nan semakin tajam, terutama setelah Rodrigo Duterte ditangkap dan dipindahkan ke tahanan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag pada Maret tahun lalu.

Rodrigo Duterte saat ini menunggu persidangan atas dakwaan pembunuhan nan berangkaian dengan kebijakan "perang melawan narkoba" semasa pemerintahannya.

Mantan Kepala Kepolisian Filipina Ronald "Bato" dela Rosa, nan juga menghadapi dakwaan serupa di ICC, memimpin kepolisian nasional selama sebagian besar operasi tersebut, ketika ribuan tersangka tewas. Keduanya membantah melakukan pelanggaran.

Konflik antara kubu Marcos dan Duterte turut merembet ke Senat sehingga memunculkan pertanyaan mengenai gimana para senator bakal memberikan bunyi dalam sidang pemakzulan.

Pada Mei lalu, ketika Senat bersiap menerima arsip pemakzulan dari DPR, Senator Ronald "Bato" dela Rosa, sekutu dekat Sara Duterte, tiba-tiba muncul kembali di ruang sidang setelah lama tidak terlihat di publik sejak November.

Ia memberikan bunyi penentu nan mengantarkan Alan Peter Cayetano menjadi Ketua Senat. Cayetano sendiri merupakan pasangan calon wakil presiden Rodrigo Duterte dalam pemilu 2016.

Setelah itu, dela Rosa sempat berlindung di kompleks Senat sebelum meninggalkan letak pada awal hari 14 Mei, beberapa jam setelah terjadi kekacauan dan baku tembak di gedung parlemen. Hingga sekarang keberadaannya tidak diketahui.

Sekitar sebulan kemudian, golongan senator dari kubu rival sukses mengumpulkan support nan cukup untuk memilih Senator Sherwin Gatchalian sebagai Ketua Senat.

Meski perebutan kepemimpinan Senat memperlihatkan peta aliansi politik di parlemen, para analis menilai perihal itu belum tentu mencerminkan gimana para senator bakal memberikan bunyi dalam sidang pemakzulan.

"Proses pemakzulan menciptakan seperangkat insentif dan tanggung jawab konstitusional nan berbeda dibandingkan kontestasi memperebutkan bangku ketua Senat maupun dinamika politik koalisi," kata Tapia.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya