Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sudah meluncurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dengan campuran 50% minyak sawit alias dikenal dengan Biodiesel (B50) beberapa waktu nan lalu.
Peluncuran B50 ini merupakan agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan kedaulatan daya Indonesia.
Menindaklanjuti peluncuran tersebut, baru-baru ini, Pertamina Patra Niaga mencatatkan dua kali lifting/pengiriman perdana B50 oleh kilang Pertamina Patra Niaga. Lifting perdana tersebut dilakukan dari Kilang Kasim pada 18 Juli 2026, kemudian disusul Kilang Plaju pada 22 Juli 2026.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora mengatakan, lifting perdana ini merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada daya di Indonesia.
"Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone krusial nan menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan daya nasional khususnya melalui penerapan B50 nan dicanangkan pemerintah," ujar Kitty dalam siaran persnya, Kamis (23/7/2026).
Dalam lifting perdana ini, Kilang Kasim menyalurkan 4.600 kiloliter (KL) B50 ke MT Krasak, sedangkan Kilang Plaju menyalurkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang. Hasil lifting B50 tersebut kemudian siap didistribusikan ke SPBU nan tersebar di sekitar wilayah Indonesia Barat dan wilayah Indonesia Timur agar BBM ramah lingkungan ini dapat dirasakan manfaatnya secara luas.
Lantas Berapa nilai BBm B50?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menjelaskan, pencampuran biodiesel dari FAME sebesar 50% pada minyak Solar ini bertindak untuk beragam sektor, termasuk BBM non subsidi.
Tak hanya BBM bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), penggunaan BBM B50 juga bertindak di sektor pertambangan, pertanian, perikanan dan kelautan, perkeretaapian, serta transportasi laut.
Harga BBM Biosolar B50 ini pada dasarnya sama dengan nilai BBM Solar subsidi nan memang sudah ditetapkan pemerintah.
Yang membedakan kali ini ialah besaran persentase volume biodiesel alias FAME pada minyak Solar. Sebelumnya, Biosolar berisi campuran 40% biodiesel alias B40. Namun, sekarang kandungan biodiesel ditingkatkan menjadi 50% namalain B50. Artinya, dalam satu liter BBM Solar saat ini terdiri dari 50% minyak Solar dan 50% biodiesel alias FAME.
"Untuk B50 ini untuk konsumsi domestik khususnya nan kena subsidi kepada saudara-saudara kita nan kena subsidi tetap harganya Rp6.800/liter. Jadi tidak ada penambahan nilai dan ini adalah bagian daripada strategi untuk mendorong net zero emission kita, lantaran dengan ini bisa menurunkan CO2 kurang lebih sekitar 44 juta metrik ton," terang Bahlil.
Sebagi penjelasan, nilai jual nan dibanderol ke masyarakat tetap berpatokan pada nilai BBM subsídi nan ditetapkan oleh pemerintah. Bila produknya non subsidi, maka harganya bakal ditentukan oleh badan upaya sesuai dengan formula nan ditetapkan pemerintah.
Untuk nilai keekonomian, BBM B50 ini artinya bakal mengikuti nilai keekonomian minyak Solar dan juga biodiesel alias FAME.
Saat ini nilai keekonomian minyak Solar di kisaran Rp 19.000-Rp 21.000-an per liter. Adapun, untuk nilai biodiesel biasanya ditetapkan pemerintah setiap bulannya.
HIP Biodiesel
Kementerian ESDM resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk Juli 2026 sebesar Rp14.562 per liter + ongkos angkut. Perhitungan HIP biodiesel merujuk pada formula (Harga CPO KPB rata-rata + US$ 85 per ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut.
Harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) KPB periode 25 Mei hingga 24 Juni 2026 sebesar Rp15.217 per kg. Nilai konversi bahan baku biodiesel ditetapkan sebesar US$85 per metrik ton, sedangkan aspek konversi dari kilogram ke liter sebesar 870 kg/m3.
Adapun besaran ongkos angkut mengikuti Keputusan Menteri ESDM Nomor 290.K/EK.05/MEM.E/2025, sedangkan kurs nan digunakan merujuk pada rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 25 Mei-24 Juni 2026 sebesar Rp17.895 per US$.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
6







English (US) ·
Indonesian (ID) ·