Dedi Mulyadi Sebut Insentif Rp10 Juta sebagai Strategi Psikologis Cegah Main Hakim Sendiri

1 jam yang lalu 3
Dedi Mulyadi Sebut Insentif Rp10 Juta sebagai Strategi Psikologis Cegah Main Hakim Sendiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.(dok.Diskominfo Jabar)

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa insentif Rp10 juta bagi penduduk nan membantu menangkap pelaku begal dan kejahatan jalanan bukan rayuan memburu pelaku, melainkan strategi psikologis untuk mencegah tindakan main pengadil sendiri. Menurut Dedi, bingkisan tersebut hanya bakal diberikan andaikan pelaku diserahkan kepada kepolisian dalam kondisi utuh dan telah ditetapkan secara resmi sebagai tersangka.

"Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan Rp10 juta jika diantarkan. Itu secara psikologis bakal memengaruhi," ujar Dedi di Arcamanik, Bandung, Jumat (24/7).

Mantan Bupati Purwakarta itu menegaskan, insentif tidak bakal diberikan andaikan pelaku mengalami penganiayaan alias kekerasan berlebihan sebelum diserahkan kepada polisi.

"Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi jika babak belur, kita tidak kasih hadiah," katanya.

Dedi menjelaskan, kebijakan tersebut juga bermaksud mendorong kewaspadaan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali Pos Siskamling alias ronda malam nan belakangan mulai berkurang di tengah maraknya kejahatan jalanan.

"Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti jika ada maling ayam, kan lumayan. Nah, nan seperti itu kudu memacu penduduk kita. Warga kita kan belum seperti penduduk di negara maju lainnya. Kita kudu terus dimotivasi," ujarnya.

Menanggapi dugaan bahwa pendekatan tersebut terlalu pragmatis, Dedi mengatakan insentif merupakan langkah efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan, terutama di area aglomerasi Bandung Raya.

"Pertanyaan saya, mana sih nan sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga mau ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai," kata Dedi. (Ant/P-3)

Selengkapnya