Jakarta, CNBC Indonesia - BP Tapera memastikan permintaan masyarakat terhadap rumah subsidi tetap tetap tinggi. Namun, tantangan terbesar saat ini justru datang dari sisi pasokan, mulai dari kenaikan nilai material gedung hingga persoalan perizinan lahan.
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengatakan relaksasi terhadap riwayat angsuran debitur nan dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membikin sisi permintaan relatif tidak mengalami kendala. Menurutnya, developer di beragam wilayah juga tetap memandang kebutuhan rumah subsidi tetap besar.
"Kalau dari sisi demand sebenarnya enggak ada masalah. Apalagi sekarang sudah ada relaksasi nan diupayakan Pak Menteri bekerja sama dengan Ketua OJK, sehingga catatan angsuran dengan baki debet di bawah Rp1 juta tidak lagi menghalangi proses pengajuan KPR dari debitur," ujar Heru dalam konvensi pers BP Tapera, Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, dia mengakui tantangan sekarang bergeser ke sisi suplai. Sejumlah bahan gedung mulai mengalami kenaikan nilai sehingga berakibat pada biaya pembangunan rumah subsidi. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah lantaran dapat memengaruhi keahlian developer menyediakan rumah dengan nilai sesuai ketentuan.
"Memang dari sisi suplai ada tantangan. Harga material seperti semen di beragam wilayah sudah mulai naik, kemudian spandek, bondek, keramik sampai besi juga mengalami kenaikan. Ini nan kemudian diminta Pak Menteri untuk dikaji berbareng BPS," kata Heru.
Selain kenaikan nilai material, persoalan perizinan lahan juga tetap menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah, kata Heru, telah berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Dalam Negeri untuk mempercepat penyelesaian beragam halangan nan berangkaian dengan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
"Masalah tanah dan perizinan sudah diupayakan luar biasa oleh Pak Menteri melalui kerjasama dengan Menteri ATR/BPN dan Menteri Dalam Negeri. Sudah ada surat info berbareng nan memberikan relaksasi agar halangan perizinan bisa segera teratasi," ujarnya.
Berbagai kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil, penyaluran FLPP dalam beberapa pekan terakhir kembali meningkat. BP Tapera menyatakan ada pendampingan kepada developer maupun bank penyalur untuk menyelesaikan beragam hambatan teknis di lapangan.
"Tren realisasi terus meningkat. Ini menunjukkan intervensi kebijakan baik di sisi demand maupun suplai mulai efektif berjalan. Kami optimistis penyaluran FLPP tahun ini bakal semakin baik, apalagi kelak ada tambahan skema pembiayaan rumah susun subsidi," kata Heru.
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·