Siswa memandang ruang kelas nan ambruk di SD Negeri 2 Tugu, Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, kondisi gedung nan sudah lapuk diduga menjadi penyebab ambruknya ruang kelas.(MI/Nurul Hidayah)
BERDASARKAN info nan sukses dihimpun, sebuah ruangan di SD Negeri 2 Tugu, Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, ambruk, Kamis (23/7) sekitar pukul 17.00 WIB. Beruntung, saat kejadian sudah tidak ada aktivitas di dalamnya sehingga tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Ruangan kelas nan ambruk tersebut mengalami ambruk total, mulai atapnya hingga separoh dindingnya. Rangka genting nan terbuat dari kayu pun berceceran di lantai, bercampur dengan material tembok nan hancur. Ambruknya ruangan tersebut membikin dua ruang nan berbanjar di sampingnya, ialah ruang kelas lima dan ruang kelas enam, terpaksa dikosongkan.
“Dikhawatirkan ikut ambruk juga lantaran rangkaian atapnya sama dengan ruangan nan ambruk,” tutur seorang pembimbing di sekolah tersebut, Arif Budiman, Jumat (24/7).
Dijelaskan Budi, ruang kelas ambruk tiba-tiba, padahal saat kejadian tidak ada angin dan tidak pula hujan. “Tiba-tiba ambruk. Kayu-kayunya memang sudah lapuk,” tutur Budi.
Akibatnya, siswa di sekolah tersebut kudu rela belajar dengan berbagi ruang kelas dalam waktu nan bersamaan. “Kelas dua digabung dengan kelas tiga dan kelas empat digabung dengan kelas lima. Cuma kelas satu dan kelas enam saja nan terpisah. Tapi kelas enam sekarang numpang di gedung TK nan ada di belakang," jelas Budi.
Sedangkan ruang pembimbing menempati ruang kelas satu nan berfaedah juga sebagai perpustakaan. Sedangkan untuk kelas satu, memakai ruangan nan lain.
“SD Negeri 2 Tugu merupakan sekolah inpres nan dibangun pada 1976,” jelas Budi.
Sejak saat itu sampai sekarang, sepengetahuannya sekolah tersebut belum sekalipun tersentuh support perbaikan dari pemerintah. Kondisi tersebut diperparah dengan ketiadaan kepala sekolah definitif sejak 2022 dan hanya dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt). Hal itu turut menghalang upaya pengajuan support perbaikan lantaran masa kedudukan Plt kepala sekolah nan terus berganti setiap tiga bulan.
“Ruang kelas nan dipakai saat ini sebelumnya juga mengalami kerusakan. Namun, para wali siswa rela secara swadaya memperbaiki kerusakan tersebut,” tutur Budi. (UL)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·